Blog

Blog

Blog (6)

Lapisan Dusta di Balik Legenda Kekejaman Gerwani

by

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160930103757-20-162339/lapisan-dusta-di-balik-legenda-kekejaman-gerwani/

Laporan Khusus

Lapisan Dusta di Balik Legenda Kekejaman Gerwani

, CNN Indonesia
 
Lapisan Dusta di Balik Legenda Kekejaman Gerwani Massa antikomunis memberangus segala hal berbau PKI dan Gerwani pasca-G30S. (AFP Photo)

Jakarta, CNN Indonesia -- Sainah, seorang gadis 17 tahun, menjadi sorotan media dua bulan setelah peristiwa penculikan dan pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat pada 30 September 1965.

Sainah disebut-sebut sebagai anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang melakukan Tarian Harum Bunga di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

 “Tarian Bunga Harum itu merupakan tarian perangsang jang kotor, sehingga menimbulkan kelakuan-kelakuan asusila di antara para peserta gerakan Kontrev G30S di Lubang Buaja,” bunyi petikan berita harian Kompas, Senin 13 Desember 1965.
 
Pers ketika itu mengutip keterangan dari Ketua Tim Pemeriksa dan Interogasi Jawa Barat, Mayor Danamiharja. Menurut Danamiharja, Sainah bergabung di Lubang Buaya atas permintaan Pelda Angkatan Udara bernama Jusuf.
 
Sainah disebut dijanjikan honorarium Rp100 ribu. Ia bersama teman-teman perempuan lainnya ditugaskan menari telanjang bulat setiap hari. Tarian itu dikenal dengan nama Tari Harum Bunga.
 
“Kalau tarian serupa ini diadakan, maka berbondong-bondonglah 400 orang laki-laki sebagai ‘penonton’. Maka timbullah ‘pergaulan bebas’, di mana tiap wanita diharuskan melajani tiga sampai empat orang laki-laki.”
 
Tarian Bunga Harum itu semacam puncak propaganda yang disebarkan secara resmi oleh aparat ketika itu. Kabar itu berembus cepat, setelah sebelumnya Gerwani juga disebut menyiksa tujuh perwira AD –menusuk-nusuk mereka dengan pisau dan menyileti alat vital para korban.

Harian Kompas melaporkan tentang Tarian Bunga Harum yang disebut dilakukan oleh perempuan Gerwani. (Dok. Istimewa)

Sejumlah perempuan dari Gerwani, menurut penelitian profesor dan antropolog Universitas Amsterdam Saskia Eleonora Wieringa, memang berada di Lubang Buaya menjelang aksi dari kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September.

Namun, Gerwani sebagai organisasi tak pernah terbukti terlibat dalam aksi penyiksaan dan pembunuhan para perwira AD.

Latihan Ganyang Malaysia

Tanggal 30 September 1965, Suharti Suwarto, seorang anggota Gerwani berpaham komunis garis keras, datang ke kantor pusat Gerwani. Dia mengatakan, perlu sejumlah perempuan untuk latihan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) di Lubang Buaya. 

Dwikora ialah bagian dari kebijakan konfrontasi Malaysia oleh pemerintah Sukarno. Saat itu Presiden Sukarno menentang niat Federasi Malaya untuk menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak karena menganggapnya sebagai boneka Inggris.

Sejak Juli 1965, Lubang Buaya menjadi lokasi latihan Ganyang Malaysia bagi sukarelawan Dwikora, mulai anggota PKI, Pemuda Rakyat, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Buruh Tani Indonesia, sampai Gerwani.

Namun pada 30 September itu, para pengurus Gerwani di kantor pusat heran dengan permintaan Suharti untuk menyediakan tenaga untuk latihan Dwikora.

"Menurut mereka, hal itu belum pernah dibahas dalam rapat. Meski demikian Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Gerwani, Sulami, menyanggupi permintaan Suharti," kata Saskia seperti tertulis dalam buku Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI.

Sulami pun menjemput empat anggota Gerwani dan mengirim mereka ke Lubang Buaya.

Namun sehari sesudah mengirim sukarelawan ke Lubang Buaya, 1 Oktober 1965, Sulami kaget mendengar kabar tentang upaya kudeta yang dilakukan G30S.

Salah satu diorama di Museum Pengkhianatan PKI yang memperlihatkan peristiwa saat jasad jenderal Angkatan Darat dimasukkan ke dalam sumur di Lubang Buaya. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)

Para gadis Gerwani yang datang dari Lubang Buaya, tiba di kantor dan kebingungan mendengar cerita pembunuhan para jenderal AD.
 
Seorang sukarelawan bernama Siti Arifah, kepada Saskia pada Februari 1983, menceritakan peristiwa yang ia lihat di Lubang Buaya.

“Saya menyaksikan para serdadu membunuh beberapa orang jenderal, kemudian saya lari pulang. Saya ditangkap pada jam sembilan pagi, lalu ditahan di penjara selama dua minggu. Saya diinterogasi dan dicambuki. Mereka memaksa kami telanjang bulat dan menari-nari di depan mereka,” kata Siti seperti dituturkan dalam buku karya Saskia. 

Setelah peristiwa itu, beredarlah berbagai dongeng tentang kekejaman dan aksi tak senonoh yang dilakukan Gerwani. Para perempuan Gerwani diterpa isu melakukan tarian telanjang dan menyileti kemaluan para perwira.
 
Desas-desus itu disusul dengan aksi aparat menanggapi anggota Gerwani hingga ke pelosok daerah. Mereka yang melarikan diri, hidup dalam buronan. Banyak yang akhirnya tertangkap dan dipenjara.

Para tahanan politik perempuan itu lantas menghadapi penyiksaan dan pemerkosaan.

Sejumlah lokasi penyiksaan yang terkenal antara lain Penjara Bukit Duri di Jakarta Selatan, dan bekas sekolah Tionghoa di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, yang kemudian dikenal dengan sebutan “rumah setan.”


Pelacur

Saat itu terdapat tiga perempuan di Lubang Buaya yang selalu mendapat pemberitaan di media, yakni Sainah, Emy, dan Atikah Djamilah. Para perempuan itu, menurut penghuni penjara Bukit Duri, dipaksa mengaku melakukan berbagai kekejaman di Lubang Buaya.
 
Emy misalnya, ialah pelacur yang disiksa untuk mengaku sebagai anggota Gerwani. Dia masuk ke penjara Bukit Duri dan bergabung dengan tahanan politik pada 1967.

“Dia buta huruf, dan diminta memberikan cap jempol dari berita acara pemeriksaan yang tak diketahui isinya,” kata Sri Sulistyawati, mantan tahanan politik Bukit Duri.
 
Isi surat pernyataan itu memberitakan bahwa dia adalah Ketua Gerwani Jakarta dan ambil bagian dalam penyiksaan kelamin pada jenderal di Lubang Buaya.
 
Padahal, kata Sri, Emy merupakan pelacur yang biasa berdiam di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Emy akhirnya dilepaskan pada 1979.

“Selama di penjara, para anggota Gerwani mengajari Emy baca tulis dan menjelaskan kepadanya apa dan bagaimana Gerwani itu,” kata Sudjinah dalam buku Saskia.
 
Sudjinah yang menghadapi sidang pengadilan atas tuduhan subversif pernah mengajukan kisah Emy kepada hakim. Dia juga bercerita tentang para perempuan mengaku Gerwani yang membuat kesaksian setelah mendapat siksaan kejam.
 
Namun, semua yang dikatakan Sudjinah tak diindahkan.
 
Selain Emy, Jamilah juga dipublikasikan sebagai anggota Gerwani yang terlibat memutilasi para jenderal.
 
Jamilah dikenal sebagai Srikandi Lubang Buaya. Pengakuannya bahwa dia memutilasi alat vital para perwira AD ditulis beberapa media, antara lain Angkatan Bersenjata dan Sinar Harapan yang terbit pada 5 dan 6 November 1965.
 
Dalam laporan itu, Jamilah mengatakan melakukan perbuatan itu atas perintah pimpinan Gerwani berinisial S dan Sas.

Sejak muncul berita-berita itu, demonstran mahasiswa ramai berteriak “Gerwani Cabo,” “Gantung Gerwani,” dan “Ganyang Gerwani.”

Salah satu surat kabar memberitakan aksi demonstrasi anti-PKI dan Gerwani pasca-G30S. (Dok. Istimewa)

Pada 2011, Gramedia menerbitkan buku berjudul Aku Bukan Jamilah dengan kata pengantar dari Koesalah Toer, adik kandung Pramoedya Toer. Buku itu berisi pengakuan Jemilah,  yang  namanya selama itu disebut sebagai Jamilah.
 
Jemilah adalah gadis kampung asal Pacitan, Jawa Timur. Ia bercerita, baru saja menikah dengan pria bernama Haryanto dan tinggal di Jakarta sejak 1965. Suami Jemilah adalah aktivis SOBSI.
 
Baru beberapa bulan Jemilah menikah, meletus peristiwa G30S. Jemilah pun berencana pulang kampung.

Namun di tengah perjalanan menuju terminal bus, kendaraan yang ditumpanginya dicegat tentara. Ketika itu tentara sedang mencari seseorang bernama Atikah Jamilah.

Atikah Jamilah itulah yang menurut militer mencungkil mata para jenderal.
 
Jemilah lalu dibawa ke kamp dan diinterogasi. Lewat berbagai penyiksaan, dia terpaksa mengaku sebagai Atikah Jamilah.

Setelah itu berbagai media menyantap rekayasa informasi atas nama Jamilah.

Sukarno Geram, Soeharto Mendongeng
 
Bertebarannya kabar tidak masuk akal mengenai perbuatan asusila dan kekejian yang dituduhkan kepada aktivis Gerwani, membuat Presiden Sukarno geram.
 
Dia berupaya meredam gejolak fitnah lewat siaran radio. “Adakah rakyatku sudah begitu bodohnya dan percaya tentang kabar omong-kosong yang menyatakan beberapa ratus wanita telah memotong buah zakar para jenderal dengan sebuah pisau silet?”
 
Namun, pernyataan Sukarno itu tak ada hasilnya. Pun meski dia berusaha membendung gelombang kekerasan dengan mengumumkan hasil autopsi para jenderal.

Hanya satu media yang memuat hasil autopsi itu: Sinar Harapan pada 13 Desember 1965.

Hasil visum et repertum oleh Tim Autopsi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto atas jenazah tujuh perwira menunjukkan mereka tewas karena tertembak. Visum menyatakan tak ada luka sayatan pada kelamin para korban.

Prof. Dr. Arif Budianto, ahli forensik Universitas Indonesia yang tergabung dalam tim autopsi, membantah sejumlah laporan soal penyiletan alat vital yang diberitakan oleh Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata, dua harian di bawah militer.

“Kami periksa penis-penis para korban dengan teliti. Jangankan terpotong, bahkan luka iris saja sama sekali tidak ada. Kami periksa benar itu, dan saya berani berkata itu benar. Itu faktanya,” kata Arif kepada Majalah D&R edisi 3 Oktober 1998 seperti dikutip dari buku Siapa Dalang G30S?

“Soal mata yang dicongkel, memang kondisi mayat ada yag bola matanya copot, tapi itu karena sudah lebih dari tiga hari terendam, bukan karena dicongkel paksa. Saya sampai periksa dengan saksama tepi mata dan tulang-tulang sekitar kelopak mata, apakah ada tulang yang tergores. Ternyata tidak ditemukan,” ujar Arif.

Pemberitaan media-media kala itu, menurut Arif, membuat tim autopsi ketakutan karena mereka tak menemukan fakta yang sama.

Hasil autopsi tak berpengaruh apapun.

Pada saat bersamaan, Jenderal Soeharto berpidato seolah berita bohong atas Gerwani adalah kebenaran. Ia, di hadapan 30 ribu orang perempuan, memberikan peringatan tentang pentingnya meluruskan moral kaum perempuan.
 
“Mereka telah meninggalkan kepribadian kita, karena mereka telah merusak kepribadian kaum wanita Indonesia. Wanita sebagai ibu memiliki peranan khusus dalam mendidik anak-anak. Generasi muda kita harus diselamatkan agar tidak terjerumus ke dalam kerusakan moral kaum kontrarevolusioner,” kata Soeharto seperti dikutip dari Berita Yudha, 9 November 1965.

Gencarnya pemberitaan fitnah soal Gerwani menimbulkan ketakutan sekaligus kemarahan di tengah masyarakat.
 
“Rakyat secara psikologis dipersiapkan untuk melakukan pembunuhan terhadap para tetangganya atau siapapun yang ditengarai anggota PKI atau ormasnya,” kata Saskia.
 
Akibat kemarahan yang dibentuk rangkaian kabar bohong itu, sekitar setengah hingga satu juta orang mati terbunuh di seantero Indonesia.

Sementara jumlah tahanan politik mencapai lebih dari 20 ribu orang, dengan hanya 800 di antaranya yang menjalani persidangan.

Sukarno yang dianggap tak mampu melindungi massanya kehilangan separuh pengaruh, dan kehancuran PKI dan ormasnya melapangkan jalan Soeharto menuju kekuasaan.

Rezim baru berdiri di atas darah dan dusta. (yul/agk)

Read more...

The Simpsons 3am

by

3am

The article on the Daily Mail's website quoted claims published in Slovenian magazine Suzy that the modelling agency Mrs Trump was working for also functioned as an escort agency in America early 90's.

You're hired immigrant Mrs Trump as lady escort at Alexis, no need working permit indeed. Ask your lovely husband how to handle immigrants.

Read more...

Fenomena Sticker Happy Family

by

Happy Family sticker ini muncul dari Queensland Australia tahun 2009. Penemu / pembuat pertama adalah pasangan Monica Liebenow dan Phil Barham yang membuat sticker keluarga mereka dan kemudian menjadi pesanan orang orang yang melihat sampai di export ke Jepang, New Zealand dan negara negara lain untuk yang original buatan mereka.
Pembajakan sticker Happy Family terjadi di Indonesia, yang kita yakin yang membuat sticker juga nggak tahu origin nya dari mana, dan muncul sticker dengan versi localization gaya keluarga Indonnesia.

Apa sih yang membuat orang merasa harus memberitahu orang orang how infinitely normal they are?

Psychologist Carolyn Manning says some would say the stickers are symptomatic of a narcissistic, self-absorbed society. The people who put them on their cars, it could be argued, think strangers actually care about the terrible ordinariness of their lives

Dan Issue soal bahayanya memberitahukan susunan keluarga lewat sticker ini juga sudah di keluarkan di US dan Australia sendiri. Monica Liebenow had this to say:
“They are harmless stickers and they are put on cars with a great intention by people who want to express their family pride…I really don’t think that is how any would-be robber is going to figure out their next victim,’ she said. ‘I’m sure they would have more sophisticated ways of doing that.”

Liebenow said the stickers allowed people to show off their family. ''They want to display it to the world: 'this is my family, I love them'.''

I am curious to see how long it will be in vogue

Ini dia penemu sticker Happy Family

phil barham

Monica Liebenow happy family sticker 1

 

Monica Liebenow happy family sticker 2

 happy family sticker 1happy family sticker 2

happy family sticker 3happy family sticker 4

happy family stickerhappy family sticker 5

Read more...

Jam Malam Perempuan di Aceh

by

Gw liat berita hari ini, Walikota Aceh memberlakukan jam malam per 4 Juni 2015 untuk perempuan karena kejahatan sexual di Aceh meningkat. Ini yang nggak beres apa ya? korban yang di karantina bukannya pelakunya yang harus takut, para lelaki yang melakukan pelecehan bebas dan santai aja, yang di kurung justru korbannya.

Bagaimana dengan perempuan yang harus cari nafkah karena kerjanya dimalam hari para pedagang sayur2an, bagaimana kalau ada keperluan mendadak, dsb dsb Peraturan lainnya adalah tempat usaha seperti entertaiment termasuk cafe dipaksa tutup jam 11 malam. Makin mati deh kehidupan dan juga ekonomi Aceh.

Makin ditutup2in, makin di kekang akan membuat orang semakin gila. Buktinya? pelecahan dan kekerasan sexual di Arab sangat tinggi di banding dengan negara yang bebas seperti Eropa. That's fact.

2 Tahun gw sering bolak balik di Aceh, bosennya ampun2an dan tiap jumat sore, penerbangan dari Aceh terutama tujuan Medan, Penang, Kuala Lumpur penuh dengan orang2 Aceh yang punya duit buat cari hiburan di tempat lain. Siapa yang nggak mati gaya kalo keadaannya kayak gitu dan duit berputar di daerah lain instead of Aceh sendiri

Read more...

Pembajakan Industri Musik

by

Nih baru baru aja di hebohin ulang soal CD lagu bajakan sm beberapa "artis" indonesia ke DPR yang menurut mereka penjualan CD turun dan mereka cuma dapet uangnya dari acara OFF AIR.
Menurut gw hebohin ginian udah nggak jamannya. Dunia udah berubah, nggak akan bisa kita stop kemajuan penyebaran informasi lewat teknologi. Terlalu banyak cara dan media penyalurannya. Contoh aja dulu ada Napster, Limewire, dll yang di tutup. Tapi setelah ditutup, mematikan cara orang2 dapet lagu? nggak kan, karena akan muncul media2 alternative.
Jadi ya harus kreatif cari cara lain kalo emang orientasinya duit misalnya pake baju atau text sponsor di clip dan cara2 lain. Katanya orang2 kreatif. Lagian kalo the real artist, uang itu bukan no 1, tapi soal idealisme mereka di kreatifitasnya. Entah mau dapat bayaran apa nggak, itu kepuasan pribadi. Cobalah dengan mencontoh RADIOHEAD.

Read more...

I hate Weekend

by

Beberapa alasan mengapa gw nggak suka weekend

1. Everything in slow motion
2. Bermunculanlah para sunday driver dijalanan yang nyetirnya udah kayak ibu2 jalan pake kebaya
3. Kantor2 client pada tutup, nggak bisa meeting, nggak bisa nagih, nggak bisa jualan
4. Tempat2 hiburan penuh orang dan harganya jadi 2x lipat

Sekian.

Read more...
Subscribe to this RSS feed